“Waspadai badai Senyar berikutnya, yang diperkirakan akan mendarat di NTT pada periode 1-10 Januari 2026,” kata Erma di akun media sosial X, Kamis (11/12).
Prediksi ini berasal dari sistem KAMAJAYA-BRIN. Alat ini dirancang untuk memprediksi cuaca ekstrem hingga enam bulan ke depan.
Erma mengatakan Bibit Siklon 93S ukurannya memang lebih kecil dibanding Bibit Siklon 91S. Peluang menjadi siklon penuh juga lebih rendah.
Namun sistem ini tetap berbahaya bagi wilayah Nusa Tenggara Timur. Puncak risiko diperkirakan terjadi antara 11 hingga 20 Desember, bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru.
Wilayah yang perlu waspada meliputi Kupang, Timor Leste, dan sekitarnya. Badai ini berpotensi membawa hujan ekstrem, angin kencang, dan gelombang tinggi.
“Jadi hasil diskusinya mengindikasikan ada potensi tersebut, sehingga mengimbau pemda dan jajaran terkait di NTT agar melakukan upaya-upaya mitigasi dari sekarang,” kata Erma.
Analisis menunjukkan pola pusaran kuat terbentuk di perairan timur Indonesia. Terutama di Laut Flores, wilayah NTT, Kupang, dan Timor Leste.
Kondisi ini berbeda dengan perairan barat yang konvergensinya tidak berdampak langsung ke daratan. Perairan timur punya potensi lebih tinggi untuk terbentuk badai berbahaya.
Jadi kolumnis di IndoKoran.com!
Tulis apa saja, gaya bebas sesukamu. Cerita-cerita keseharian, pemikiran, atau perasaanmu. Baca ketentuannya di sini.





