INDOKORAN.com – Mata uang rupiah mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah pada Kamis (25/9/2025). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura tembus level Rp 13.003, melampaui batas psikologis Rp 13.000 untuk pertama kalinya.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi membenarkan pencapaian level terendah ini. “Iya untuk saat ini terendah sepanjang sejarah. Sebelumnya belum pernah terjadi di angka Rp 13 ribu,” ujarnya.
Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar Singapura. Sepanjang 2025, rupiah juga melemah terhadap seluruh mata uang negara ASEAN, termasuk baht Thailand, ringgit Malaysia, dan peso Filipina.
Kinerja terburuk rupiah adalah melawan baht Thailand dengan pelemahan 11,50 persen. Rupiah juga terdepresiasi 10,67 persen terhadap ringgit Malaysia dan 9,68 persen terhadap dolar Singapura.
Data historis menunjukkan tren pelemahan rupiah dalam lima tahun terakhir. Pada awal 2021, rupiah masih berada di level Rp 10.599 per dolar Singapura, kemudian melemah ke Rp 11.499 pada akhir 2022.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan penyebab pelemahan ini. Dolar Singapura menguat karena mendapat permintaan kuat sebagai mata uang safe haven regional, meski pemerintah Singapura berusaha melemahkannya.
“Singapura sangat bergantung pada perdagangan internasional dengan kebutuhan impor besar. Mereka menerapkan sistem berbeda dalam menjaga inflasi, yaitu dengan nilai tukar bukan suku bunga,” kata Lukman.
Pelemahan rupiah juga menekan pasar saham Indonesia. IHSG terkoreksi lebih dari 1 persen atau turun 85,89 poin ke level 8.040,66 pada penutupan perdagangan Kamis.
Ibrahim memperingatkan pelemahan bisa berlanjut jika tidak segera diatasi. “Seandainya saat ini tembus Rp 16.800, maka Oktober rupiah bisa di Rp 17.000 per dolar AS. Itu sangat mungkin terjadi,” katanya.
Faktor eksternal yang mempengaruhi adalah meningkatnya ketegangan geopolitik Eropa. Pidato Presiden AS Donald Trump di PBB yang mengingatkan Eropa agar tidak membeli minyak Rusia meningkatkan risiko pasar.
Dari sisi internal, penolakan tax amnesty menjadi tekanan tersendiri bagi rupiah. Padahal kebijakan ini sangat dinantikan pasar dan dibutuhkan dalam situasi saat ini.
Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira memprediksi pelemahan akan berlanjut 2-4 bulan ke depan. Kebutuhan impor yang meningkat, terutama BBM, sementara harga komoditas ekspor justru turun menjadi penyebabnya.

