Miliarder Amerika Tawarkan Penghargaan untuk Pahlawan di Tragedi Penembakan Bondi

Berita168 Dilihat

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengutuk keras serangan teroris di Sydney. Pihak AS menyatakan dukungan penuh kepada Australia dalam menghadapi tragedi ini.

16 Orang Tewas dalam Serangan Teroris

Penembakan massal di Pantai Bondi menewaskan sedikitnya 16 orang. Puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.

Kejadian itu terjadi saat acara tahunan “Hanukkah by the Sea” yang dihadiri lebih dari 1.000 orang. Kepolisian Australia telah menetapkan peristiwa ini sebagai insiden teroris.

Polisi mengidentifikasi dua pelaku sebagai ayah dan anak. Sajid Akram (50) tewas ditembak polisi di lokasi kejadian, sedangkan putranya Naveed Akram (24) kini dalam kondisi kritis di bawah penjagaan kepolisian.

Kepolisian meyakini tidak ada pelaku lain dalam penembakan massal tersebut. Pihak berwenang telah menemukan dugaan peledak rakitan di dalam kendaraan terkait pelaku yang terparkir dekat pantai.

Pelaku Berpura-pura Pergi Memancing

Kedua pelaku memberitahu keluarga mereka bahwa mereka akan pergi memancing di Pantai Selatan. Verena, ibu Naveed, mengatakan putranya menelepon pada Minggu pagi.

“Dia menelepon saya dan berkata, Bu, saya baru saja berenang. Saya menyelam. Kami akan makan sekarang, dan kemudian kami akan tinggal di rumah karena sangat panas,” kata Verena.

Verena tidak percaya putranya terlibat dalam kegiatan kekerasan atau ekstremis.

“Dia tidak memiliki senjata api. Dia bahkan tidak keluar rumah. Dia tidak bergaul dengan teman-temannya,” katanya.

Naveed Pernah Masuk Radar Intelijen

Naveed adalah tukang batu yang menganggur. Ia diberhentikan dari pekerjaannya sekitar dua bulan lalu ketika perusahaan tempat ia bekerja bangkrut.

Mantan majikannya mengatakan Naveed adalah pekerja keras yang pendiam. “Dalam pekerjaan pemasangan batu bata, Anda bekerja sama sebagai tim di lokasi, tetapi ia tidak bergaul dengan siapa pun di luar jam kerja,” katanya.

Perdana Menteri Australia Anthony Albanese mengungkapkan Naveed berada di bawah perhatian Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) pada Oktober 2019. Ia diperiksa selama enam bulan karena dugaan keterlibatannya dengan orang lain.