Bandung Barat – Kasus keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di Kabupaten Bandung Barat kembali terjadi pada Rabu (24/9). Kali ini lebih dari 50 pelajar dari berbagai jenjang mengalami keracunan setelah makan dari dapur yang berbeda di Kecamatan Cipongkor.
Kapolsek Sindangkerta Bandung Barat memastikan kejadian ini berasal dari dapur baru yang berbeda dengan kasus sebelumnya. “Ini kejadian baru, dari dapur yang berbeda yang ada di Cipongkor,” katanya.
Pihak kepolisian belum bisa memberikan data pasti jumlah korban karena situasi masih dinamis. “Untuk data pasti, belum kami himpun karena masih lalu lalang yang masuk dan keluar. Namun saya kira di atas 50 pelajar,” ujar Kapolsek Sindangkerta.
Para siswa yang keracunan mengalami gejala pusing, muntah, dan panas perut. Menu MBG yang mereka santap meliputi nasi, ayam geprek, buah stroberi, selada, tomat, tahu, dan sambal.
Seorang siswa SMK Karta Perjuangan yang menjadi korban mengaku merasakan sesak napas setelah menyantap makanan sekitar pukul 09.00 WIB. “Yang terasa, sesak. Ini dari dapur Pasirsaji, Kecamatan Cipongkor,” ujarnya.
Siswa tersebut kini dirawat di RSUD Cililin dengan infus terpasang di tangan kiri. Kondisi di lokasi kejadian tampak kewalahan dengan ambulans yang terus berdatangan.
Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol. Hendra Rochmawan melaporkan total korban keracunan MBG telah mencapai 369 siswa hingga Selasa (23/9). “Data terakhir, jumlah korban sementara mencapai 369 orang,” katanya dalam keterangan resmi Rabu (24/9).
Dari total korban tersebut, 112 siswa masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan. Sementara 257 siswa sudah membaik dan diperbolehkan pulang.
Kombes Hendra merinci sebaran korban yang masih dirawat di berbagai tempat. Poned Puskesmas Cipongkor menangani 2 siswa, Posko Kecamatan Cipongkor 15 siswa, RSUD Cililin 29 siswa, RS Permata 44 siswa, dan RSIA Anugrah 22 siswa.
Untuk penanganan medis darurat, Puskesmas Cipongkor menampung 116 siswa dan Posko Kecamatan Cipongkor menampung 252 siswa. Tim penyelidik terus melakukan penelusuran sumber makanan yang diduga menjadi penyebab keracunan.
“Fokus utama saat ini adalah penanganan medis korban. Untuk penyelidikan, tim sudah bergerak melakukan penelusuran terkait makanan yang diduga menjadi penyebab,” ungkap Kombes Hendra.
Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail telah menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk kasus ini pada Selasa (23/9). Status tersebut ditetapkan setelah ratusan siswa keracunan sejak Senin (21/9).




