Sembilan dari sepuluh kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis terjadi di dapur yang baru beroperasi kurang dari sebulan. Data ini mengungkap celah dalam sistem pengawasan program yang menelan anggaran Rp 335 triliun.
INDOKORAN.com – Data Badan Pengawas Obat dan Makanan menunjukkan fakta mengejutkan. Sebagian besar kasus keracunan terjadi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi yang masih hijau.
“Data BPOM menunjukkan 9 dari 10 SPPG yang melaporkan insiden keracunan pangan pada periode Agustus-September 2025 adalah SPPG yang baru beroperasi kurang dari 1 bulan,” kata Kepala Kantor Staf Kepresidenan Muhammad Qodari.
Temuan ini menjadi kunci utama rentetan keracunan yang melanda ribuan siswa. Qodari menyebut kondisi ini seperti masa kritis pesawat saat lepas landas.
Dari 8.583 dapur MBG yang beroperasi, hanya 34 yang memiliki surat laik higiene dan sanitasi dari Kemenkes. Artinya, 8.549 dapur lainnya beroperasi tanpa jaminan kebersihan.
Kondisi lebih parah terlihat dari aspek prosedur keamanan pangan. Dari 1.379 dapur MBG, hanya 413 yang punya standar operasional prosedur keamanan pangan. Yang menjalankan prosedur tersebut hanya 312 dapur.
“Dari sini kan sudah kelihatan, kalau mau mengatasi masalah ini, kemudian SOP-nya harus ada, SOP keamanan pangan harus ada dan dijalankan,” tambah Qodari.
Kasus keracunan terbanyak terjadi di Kabupaten Bandung Barat dengan 1.333 korban. Keracunan ini tersebar di tiga lokasi berbeda dalam rentang waktu lima hari.
Kejadian pertama menimpa 393 orang di klaster SPPG Cipari, Cipongkor. Selanjutnya, 192 siswa keracunan di Cihampelas. Kasus ketiga menimpa 201 siswa di tiga desa di Cipongkor.
Ada Celah dalam Pengawasan MBG
Wakil Ketua Badan Gizi Nasional Nanik S Deyang mengakui kesalahan fatal dalam pengawasan. Dia menyebut 80 persen kasus keracunan terjadi karena mitra tidak mematuhi prosedur.
“Kejadian belakangan 80 persen adalah karena SOP kami yang tidak dipatuhi, baik oleh mitra maupun oleh tim kami sendiri dari dalam,” kata Nanik.
Nanik mengaku Badan Gizi Nasional masih kurang dalam mengawasi pelaksanaan MBG di lapangan. Dia berjanji petugas akan bekerja lebih keras, bahkan tidur di dapur untuk memastikan produksi makanan aman.




